29 February 2016

5 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Setelah Install Ulang Windows


Windows 7 boot screen

Kegiatan install ulang PC ataupun laptop adalah langkah terakhir yang dipilih oleh para pengguna komputer untuk mengatasi berbagai masalah pada Windows yang mungkin sulit terselesaikan, seperti komputer yang semakin lambat, terinfeksi virus, data yang corrupt dan masih banyak lagi masalah lainnya yang menyebabkan Windows tidak berjalan dengan lancar seperti biasanya. Dengan kata lain, jika kita melakukan install ulang maka sistem Windows akan kembali fresh dan normal kembali serta semua masalah yang sebelumnya sulit teratasi seketika itu juga dapat langsung terselesaikan.

Baca juga: Akibat Jika Terlalu Sering Melakukan Install Ulang Komputer

Nah, bagi kamu yang baru saja selesai menginstall ulang komputermu, jangan langsung terburu-buru menggunakan komputer kamu untuk memulai mengerjakan pekerjaanmu. Ada beberapa hal yang sebaiknya kamu lakukan setelah melakukan install ulang agar kamu dapat menggunakan Windows dengan lebih nyaman. Dan berikut ini beberapa hal tersebut:

#1. Membuat System Restore Point

System Restore Point di Windows 7

Waktu yang sangat tepat untuk membuat Restore Point adalah pada saat sistem Windows dalam keadaan stabil. Dan setelah install ulang inilah waktu yang pas untuk melakukan hal tersebut. Restore Point ini bisa dikatakan sebagai "alat pertolongan pertama", karena dapat dengan mudah mengembalikan kondisi Windows seperti semula jika suatu saat Windows kamu mengalami masalah tanpa harus install ulang kembali.

Sebenarnya, dalam keadaan default, Restore Point ini dibuat otomatis secara berkala oleh sistem Windows. Namun kamu juga dapat membuatnya sendiri dengan mengikuti tutorial sebelumnya tentang Cara Membuat System Restore Point di Windows 7.


#2. Mengupdate Windows

Windows update

Microsoft seringkali merilis update secara berkala untuk memperbaiki beberapa bugs, menambal celah keamanan yang telah ditemukan, serta menambahkan beberapa fitur baru pada Windows. Untuk itu pastikan kamu untuk mengupdate Windows kamu agar sistem dapat berjalan optimal.

Sebenarnya dalam settingan defaultnya, Windows telah di atur akan melakukan update secara otomatis. Untuk melakukan update Windows ini bisa memakan waktu lebih cepat atau bahkan lebih lama tergantung dari berapa banyak file update yang akan di download serta cepat atau lambatnya koneksi internet kamu. Oleh sebab itu, apabila kamu menggunakan Windows original, ada baiknya untuk mengupdate Windows terlebih dahulu sistem operasi tersebut setelah selesai install ulang agar proses update ini tidak mengganggu pekerjaan kamu dikemudian hari nanti.


#3. Menginstall Driver

Driver komputer

Driver berfungsi untuk menghubungkan suatu hardware tertentu dengan sistem operasi agar hardware tersebut dapat berjalan dengan baik. Tapi perlu kamu ketahui, sebenarnya Windows masih bisa berjalan dengan lancar meskipun kamu sama sekali tidak menginstall driver, karena di dalam sistem operasi tersebut telah dilengkapi dengan driver generic bawaan. Namun jika kamu hanya menggunakan driver bawaan dari OS tersebut, maka komputer kamu tidak akan berjalan optimal karena keterbatasan fasilitas yang ada pada driver bawaan Windows tersebut.

Oleh karena itu, pastikan kamu untuk menginstall driver pada setiap hardware yang kamu gunakan di komputer kamu. Aku sarankan, beberapa driver yang harus kamu install dahulu diantaranya driver VGA/Graphic Card, keyboard dan mouse, sound card, serta Wi-Fi/Bluetooth. Kamu juga bisa menggunakan bantuan software pihak ketiga untuk mempermudah kamu mencari driver yang sesuai dengan hardware komputermu seperti DriverPack Solution, Driver Genius ataupun juga Driver Booster.


#4. Menginstall Software yang Diperlukan

Avast antivirus

Setelah selesai menginstall driver, hal selanjutnya yang pasti kamu lakukan adalah menginstall beberapa software yang kamu perlukan. Adapun beberapa software yang sebaiknya wajib kamu install diantaranya software Anti Virus, Browser, Office, Pembaca file arsip dan Multimedia Player. Serta beberapa software tambahan lainnya seperti software Maintenance.

Untuk software anti virus, ada banyak pilihan anti virus gratis maupun berbayar yang cukup ampuh untuk mengatasi berbagai macam virus, seperti Avast, AVG, Norton dan sebagainya. Untuk software browser, bagi kamu yang tidak suka dengan Browser bawaan Windows yaitu Internet Explorer, kamu bisa menggunakan alternatif browser yang lain, seperti Google Chrome, Mozilla Firefox, dan Opera Mini. Untuk software office, kamu bisa memakai Microsoft Office ataupun juga LibreOffice, sedangkan untuk pembaca file PDF, kamu bisa pakai Foxit Reader. Untuk software pembaca file arsip seperti rar, zip, iso, kamu bisa pakai WinRAR. Bagi yang ingin menginstall software multimedia, kamu bisa pakai VLC atau GOM untuk video player serta Winamp atau AIMP3 untuk audio player.

Sebagai tambahan, untuk software maintenance, kamu bisa pakai CCleaner untuk membantu membersihkan berbagai file sampah di Windows, dan Revo Uninstaller untuk meng-uninstall software sampai bersih dan tuntas. Namun perlu diperhatikan, sebaiknya install software yang memang benar-benar kamu perlukan saja. Serta pada saat proses instalasi, sebaiknya jangan asal klik Next. Kamu harus teliti komponen mana saja yang sebaiknya diinstall. Sebagai referensi, kamu bisa baca artikel sebelumnya tentang Cara Menginstall Software dengan Baik dan Benar.


#5. Membuat Backup Image

backup image Windows 7

Bila sistem Windows sudah terupdate, driver sudah terinstall dengan lengkap, software tambahan yang kamu perlukan juga sudah terpasang. Hal terakhir yang sebaiknya kamu lakukan adalah membuat Backup Image. Backup Image ini sebenarnya hampir sama seperti System Restore Point. Namun jika System Restore Point hanya menyimpan semua registry dan pengaturan Windows saja, Backup Image akan menyimpan semua pengaturan pada Windows lengkap dengan driver, software dan berbagai tools yang telah kamu pasang sebelumnya.

Jadi jika suatu saat Windows kamu mengalami masalah, kamu bisa langsung menjalankan file backup image ini tanpa perlu menginstall ulang kembali Windows, driver, maupun software kamu. Kamu bisa dengan mudah membuat Backup Image dengan menggunakan fitur bawaan Windows melalui menu Control Panel -> Backup and Restore -> Create a system image. Atau juga bisa melalui bantuan software pihak ketiga yang menyediakan fitur tambahan untuk membuat Backup Image seperti EaseUS Todo Backup.


Itulah 5 hal yang sebaiknya kamu lakukan setelah install ulang Windows. Jika kamu memiliki tips yang lain, bisa kamu bagikan melalui kolom komentar. ;)
Selengkapnya...

25 February 2016

Cara Menggunakan System Restore di Windows 7


System Restore di Windows 7

Cara paling mudah untuk mengatasi masalah komputer yang mungkin terjadi setelah menginstall software, driver, ataupun setelah melakukan perubahan konfigurasi yang berkaitan dengan sistem Windows yaitu dengan menggunakan tools bawaan Windows yang bernama System Restore. Seperti yang telah aku jelaskan pada artikel sebelumnya, System Restore sangat berguna untuk mengembalikan sistem Windows ke kondisi semula pada saat Windows masih dalam keadaan stabil atau Windows belum mengalami masalah.

Agar kita dapat mengembalikan sistem Windows ke kondisi semula, maka syaratnya System Restore harus memiliki Restore Point yang biasanya otomatis dibuat oleh Windows dalam waktu tertentu atau kamu juga bisa menentukan sendiri dengan membuat titik restore secara manual dengan mengikuti tutorial yang telah aku berikan sebelumnya tentang Cara Membuat System Restore Point di Windows 7.

Untuk menggunakan System Restore ini sebenarnya juga sangat mudah sekali, hanya butuh beberapa klik saja. Namun bagi yang masih bingung cara menggunakannya, berikut ini aku berikan tutorial menggunakan System Restore:

Pertama, buka Start Menu lalu ketik System Restore pada Search bar dan tekan Enter.

Start Menu Windows 7

Jika jendela System Restore telah terbuka, klik Next untuk melanjutkan.

System Restore di Windows 7

Silahkan pilih Restore Point yang ingin kamu gunakan. Biasanya System Restore hanya akan menampilkan Restore Point yang terbaru saja, untuk menampilkan semua Restore Point yang tersimpan, beri centang pada Show more restore points. Dan jika kamu ingin melihat program apa saja yang akan terpengaruh jika kamu menggunakan salah satu dari Restore Point tersebut silahkan klik tombol Scan for affected programs.

Perlu kamu ketahui, Restore Point ini berisi backup dari semua informasi tentang Windows termasuk registry dan pengaturan Windows yang telah disimpan. Jika kamu sudah memilih salah satu dari Restore Point tersebut kemudian klik Next.

System Restore di Windows 7

Klik Finish, untuk melanjutkan.

System Restore di Windows 7

Jika muncul kotak dialog konfirmasi, silahkan klik Yes untuk memulai proses restore.

System Restore di Windows 7

Silahkan kamu tunggu beberapa saat hingga proses restore system Windows selesai.

Setelah proses restore selesai, maka kondisi komputer kamu akan normal kembali sama seperti sebelumnya kamu membuat Restore Point yang telah kamu pilih tadi. Dengan menggunakan System Restore, maka masalah pada Windows dapat segera terselesaikan tanpa harus terburu-buru untuk install ulang.

Sedikit tips. Jika terdapat beberapa Restore Point, namun kamu bingung memilih Restore Point mana yang digunakan, maka silahkan pilih Restore Point yang terbaru. Tetapi jika Restore Point yang telah kamu pilih tidak bisa mengatasi masalah pada Windows, maka kamu bisa mencoba Restore Point yang lainnya, begitupun seterusnya.
Selengkapnya...

23 February 2016

Cara Membuat System Restore Point di Windows 7


System Restore Point di Windows 7

Seiring dengan berjalannya waktu, komputer tidak selamanya berjalan lancar. Ada kalanya komputer mengalami masalah seperti crash dan error setelah kamu menginstall software, menginstall atau mengupdate driver, ataupun juga mengubah beberapa pengaturan tertentu di Windows. Untuk mengatasi kejadian yang tidak kita inginkan tersebut, cara yang paling mudah yaitu dengan menggunakan fitur System Restore yang ada di Windows.

System Restore merupakan fitur di Windows yang berfungsi untuk mengembalikan sistem Windows (rollback) ke kondisi tertentu dimana sebelum terjadi masalah pada komputer atau komputer masih dalam kondisi stabil. Fitur ini bisa dikatakan sangat penting bagi pengguna Windows karena dengan menggunakan System Restore, maka pengguna dapat secepatnya mengatasi masalah yang terjadi pada komputer tanpa harus terburu-buru menginstall ulang komputernya.

Untuk dapat menggunakan System Restore ini, maka Windows memerlukan sebuah titik restore tertentu yang dikenal dengan istilah Restore Point. Karena didalam Restore Point tersebut semua informasi tentang Windows termasuk registry dan pengaturan Windows akan disimpan. Sehingga jika nanti suatu saat terjadi masalah pada komputer, maka kita bisa dengan mudah mengembalikan ke titik restore tersebut. Sebenarnya, Windows secara otomatis akan membuat Restore Point dalam jangka waktu tertentu. Tetapi kita juga bisa membuat Restore Point ini secara manual dengan mudah. Nah, berikut ini langkah-langkah cara membuat Restore Point:

Pertama, Buka Start Menu kemudian klik kanan pada Computer lalu pilih Properties.

Start Menu Windows 7

Pada bagian sisi sebelah kiri, Pilih System protection.

System Restore Point di Windows 7

Akan muncul jendela System Protection. Silahkan pilih drive C:. Karena pada drive C: biasanya tempat file-file Windows tersimpan atau kamu bisa juga memilih drive yang lain.

Catatan: Pastikan status System Protection drive tersebut dalam keadaan On. Jika masih Off, maka kamu harus mengaktifkannya terlebih dahulu. Dengan cara, pilih drive yang akan diaktifkan, kemudian klik tombol Configure.... Pilih Restore system settings and previous versions of files, lalu klik Apply dan OK.

System Restore Point di Windows 7

Jika sudah aktif, saatnya kita membuat Restore Point. Pilih drive C: atau drive yang lain, kemudian klik Create.

System Restore Point di Windows 7

Ketikkan nama Restore Point sesuai keinginan kamu, lalu klik Create.

System Restore Point di Windows 7

Tunggu beberapa saat hingga proses pembuatan Restore Point kamu berhasil. Lalu klik Close jika sudah selesai.

System Restore Point di Windows 7

Sedikit tips, sebaiknya kamu perlu membuat Restore Point pada situasi tertentu. Contohnya setelah menginstall ulang komputer; sebelum menginstall software dan driver; sebelum mengupdate driver dan sistem Windows; sebelum menjalankan aplikasi yang berhubungan dengan system Windows, seperti Registry Cleaner; serta sebelum melakukan perubahan pada sistem dan registry Windows.

Jika sudah membuat Restore Point, dan di kemudian hari Windows kamu mengalami masalah, maka kamu bisa menggunakan Restore Point yang telah kamu buat tadi melalui System Restore. Untuk cara menggunakannya, silahkan ikuti tutorialnya disini.
Selengkapnya...

20 February 2016

YotaPhone 2, Smartphone Dengan Dua Layar Resmi Masuk Indonesia


YotaPhone 2

Baru-baru ini vendor smartphone asal Rusia turut meramaikan pasar smartphone di Indonesia dengan merilis smartphone terbaru andalan mereka yang bernama YotaPhone 2. Sebelumnya, YotaPhone 2 resmi diperkenalkan secara global pada akhir tahun 2014 lalu. Dan Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara tempat diluncurkannya Yotaphone 2 ini. Berbeda dengan smartphone pada umumnya, YotaPhone 2 hadir dengan teknologi dual layar yang berada di bagian sisi depan dan belakang body. Teknologi dual layar ini merupakan yang pertama di dunia.

Pada layar utama smartphone ini berukuran 5 inchi dengan menggunakan layar jenis AMOLED beresolusi Full HD 1920 x 1080 pixel. Sedangkan pada layar keduanya, menggunakan teknologi Electronic Paper Display (EPD) atau disebut juga E-ink dengan warna hitam putih (monochrome) berukuran 4 inchi dengan resolusi 540 x 960 pixel. Teknologi layar EPD ini memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan layar jenis AMOLED maupun LCD, diantaranya lebih nyaman dimata, tingkat konsumsi daya yang lebih rendah, dan masih tetap terlihat dengan jelas meskipun digunakan di luar ruangan atau di bawah terik matahari. Kedua layar dari YotaPhone 2 ini sama-sama sudah dilindungi oleh Gorilla Glass 3.

YotaPhone 2

Menariknya, pada layar kedua (dibagian belakang) smartphone ini akan selalu menyala (Always-On) dengan menampilkan widget informasi terkini seperti notifikasi, kalender, jam, cuaca, pemutar musik dan lain sebagainya tanpa harus membuka kunci ponsel. Pengguna dapat berinteraksi dengan sentuhan karena layar kedua ini juga berjenis touchscreen serta pengguna juga bisa membaca e-book melalui layar kedua ini. Ada pula fitur Yota Cover, yang memungkinkan pengguna bisa mengatur wallpaper pada layar kedua ini.

Selain itu, dengan fitur Yota Mirror, dimana tampilan yang ada pada layar utama bisa ditransfer ke layar kedua sehingga pengguna bisa melakukan berbagai hal dari layar kedua, termasuk bisa juga menjalankan berbagai aplikasi. Pengguna juga tidak perlu khawatir akan resiko tidak sengaja terpencet antara satu layar dengan layar lainnya. Karena setiap layar hanya bisa dioperasikan secara bergantian. Jadi misalnya, saat pengguna mengoperasikan layar utama, maka layar belakang tidak akan turut terpencet, begitupun juga sebaliknya.

YotaPhone 2

Untuk spesifikasinya, Yotaphone 2 bisa dikatakan cukup lumayan. Karena smartphone ini menggunakan sistem operasi Android 5.0 Lollipop, chipset Qualcomm Snapdragon 801, processor Quad-core 2.2 Ghz, RAM 2 GB, GPU Adreno 330, memori internal 32 GB, Kamera belakang 8 Megapixel Auto Fokus LED Flash, Kamera Depan 2,1 Megapixel, Wi-Fi 802.11, Bluetooth 4.0, MicroUSB, NFC, A-GPS, GLONASS, Accelerometer, Gyroscope, Proximity sensor, 4G LTE, baterai 2.500 mAh, Qualcomm Quick Charge 2.0, Wireless Charging, 1 Slot Nano-SIM.

Saat ini, pre-order YotaPhone 2 sudah dibuka di situs Blibli.com dan dibanderol dengan harga sekitar 7 juta rupiah. Bagaimana? Apakah kamu tertarik memiliki smartphone unik ini?

Sumber: Dikutip dari berbagai sumber

Selengkapnya...

17 February 2016

Perbedaan Sleep dan Hibernate, Mana Yang Lebih Hemat Daya?


Sleep Dan Hibernate

Seperti yang telah kita ketahui, pada sistem operasi Windows terdapat empat pilihan mode power yang bisa kita pilih, yaitu Sleep, Restart, Hibernate dan Shutdown. Dari keempat pilihan tersebut, kita lebih sering menggunakan Shutdown untuk menonaktifkan komputer atau Restart jika memang diperlukan oleh komputer, biasanya setelah menginstall driver, aplikasi atau melakukan perubahan konfigurasi pada Windows yang memerlukan Restart agar bisa berjalan. Namun entah kamu sadari atau tidak, masih ada pilihan mode Sleep dan Hibernate yang mungkin jarang atau bahkan tidak pernah kamu gunakan saat bekerja menggunakan komputer.

Mungkin kamu pernah meninggalkan komputer saat masih dalam keadaan menyala dalam waktu yang cukup lama, misalkan setengah jam. Pada saat itulah komputer kamu akan mati dengan sendirinya. Dan ketika kamu menggerakkan mouse, maka komputer akan menyala lagi. Sebenarnya pada saat itu komputer kamu tidak benar-benar mati, tetapi hanya masuk ke mode Sleep agar komputer bisa menghemat daya. Kamu bisa langsung mulai mengerjakan tugas kembali setelah komputer keluar dari mode Sleep.

Lalu, Apa itu mode Hibernate? Apa bedanya mode Hibernate dengan mode Sleep? Mana yang sebenarnya lebih hemat daya? Berikut ini penjelasannya.

Mode Sleep

Sleep Dan Hibernate

Mode Sleep akan aktif jika komputer masih menyala tetapi tidak digunakan dalam waktu yang lama atau tidak ada aktifitas yang dilakukan oleh pengguna pada komputer. Pada laptop atau Notebook juga sama, namun jika daya baterai tidak cukup, mode ini akan otomatis menonaktifkan komputer. Pada saat mode Sleep aktif, komputer akan menggunakan sedikit daya. Semua daya dari komponen yang terdapat pada komputer, termasuk pada monitor/layar, harddisk, port serta semua perangkat peripheral lainnya yang terpasang akan berkurang dan semua aktifitas yang kamu kerjakan akan disimpan sementara pada RAM. Sehingga saat komputer keluar dari mode Sleep, pekerjaan kamu yang belum sempat disimpan tidak akan hilang.

Namun terdapat kelemahan dalam mode Sleep ini, jika tiba-tiba aliran listrik pada RAM terputus, seperti misalkan mati lampu, maka semua pekerjaan yang belum kamu simpan akan hilang. Tetapi, berdasarkan pengalamanku, ini tidak terjadi pada laptop atau Notebook yang menggunakan baterai. Karena jika baterai habis saat mode Sleep ini aktif, maka laptop akan otomatis masuk kedalam mode Hibernate. Perlu kamu ketahui, tidak hanya pada Windows saja, mode Sleep ini juga ada pada sistem operasi Linux yang dikenal dengan istilah mode Suspend.

Mode Hibernate

Sleep Dan Hibernate

Secara teknis, cara kerja mode Hibernate ini hampir sama seperti mode Sleep. Jika mode Sleep menyimpan sementara seluruh aktifitas kamu pada RAM, sedangkan mode Hibernate menyimpan seluruh aktifitas pada harddisk. Selain itu, semua daya dari komponen yang terdapat pada komputer akan terputus. Termasuk pada monitor/layar, harddisk, port, perangkat peripheral, serta RAM. Dengan kata lain, mode Hibernate ini hampir sama seperti mode Shutdown karena komputer benar-benar mati dan tidak ada lagi daya yang tersimpan.

Baca juga: Cara Mengembalikan Mode Hibernate yang Hilang di Windows 7

Ketika kamu menyalakan komputer kembali melalui tombol power, maka aktifitas yang sebelumnya tersimpan pada harddisk akan dikirim kembali ke RAM. Jadi, aplikasi yang tadi kamu gunakan akan kembali terbuka, begitupun juga pekerjaan kamu yang belum kamu simpan akan kembali ditampilkan. Namun proses booting dari mode Hibernate ini akan sedikit lebih lama jika dibandingkan dengan mode Sleep.

Manakah Diantara Kedua Mode Tersebut Yang Lebih Hemat Daya?

Dari penjelasan diatas, sepertinya sudah sangat jelas. Bahwa mode yang paling hemat daya adalah mode Hibernate. Karena mode Hibernate seperti halnya dengan mode Shutdown yang sama sekali tidak menggunakan daya. Mode Hibernate sangat efektif digunakan jika kamu memiliki tugas yang sangat banyak dan akan kamu kerjakan kembali di lain hari dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, dalam mode Hibernate ini lebih aman digunakan. Meskipun komputer dalam keadaan mati (Shutdown), data yang belum sempat disimpan masih tetap aman, karena sebelumnya data akan otomatis disimpan pada harddisk.

Sedangkan untuk mode Sleep, bisa menjadi pilihan yang sangat tepat bagi kamu yang ingin mengerjakan pekerjaan kembali dengan cepat tanpa perlu menunggu proses booting, namun di sisi lain kamu juga ingin hemat energi saat meninggalkan komputer masih dalam keadaan menyala. Tetapi kurang cocok digunakan pada komputer atau desktop PC karena resiko kehilangan data yang belum disimpan sangat besar jika aliran listrik terputus akibat mati lampu.
Selengkapnya...

13 February 2016

MSI GT72S G Tobii, Laptop Gaming Pertama Berteknologi Eye Tracking


MSI GT72S G Tobii

Produsen komputer dan hardware asal Taiwan, MSI telah merilis laptop atau Notebook gaming canggih terbaru mereka. Laptop yang dirilis sebagai jajaran seri MSI GT72S G Tobii ini berbeda dengan laptop gaming pada umumnya, karena GT72S telah dilengkapi dengan teknologi Eye Tracking yang bisa mendeteksi arah gerakan mata pengguna untuk mengendalikan berbagai aspek pada PC dan juga sebagai kontrol dalam bermain game. Sehingga pengguna tidak perlu lagi menggunakan sebuah keyboard serta mouse untuk mengoperasikan PC. Dan untuk memainkan game, pengguna cukup menggerakkan bola matanya. Saat ini, ada 20 game lebih yang bisa dimainkan dengan teknologi Eye Tracking ini, diantaranya Assassin’s Creed Rogue, GTA V, Arma 3, Arma 2: Operation, Spectrophobia, MS Flight Simulator, Euro Truck Simulator 2, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Alienware 18 2015, Laptop Gaming Dengan Spesifikasi Gahar

Selain digunakan sebagai kontrol dalam bermain game, Eye Tracking juga bisa digunakan untuk membuka PC hanya dengan melihat ke layar karena telah mendukung Windows Hello pada Windows 10, memilih serta memindah file, memperbesar objek, dan lain sebagainya.

Laptop berteknologi Eye Tracking ini adalah hasil dari kolaborasi antara Micro Star International (MSI) dengan Tobii Technology asal Swedia. Menurut MSI, seri GT72S G adalah jajaran laptop gaming pertama yang sudah dibekali teknologi Eye Tracking. Sebelumnya, GT72S G sudah diperkenalkan dalam ajang CES 2016 beberapa waktu lalu dan telah mendapatkan banyak pujian.

MSI GT72S G Tobii

Untuk spesifikasi dari MSI GT72S G Tobii ini sudah termasuk laptop gaming kelas  High End, karena memiliki layar 17.3 inchi Full HD dengan G-Sync atau 4K dengan Adobe RGB 100%, processor Intel Core i7-6820H, GPU Nvidia GeForce GTX 980M, RAM DDR4 empat slot sampai 64 GB, 1 TB HDD dan 256 GB SSD storage, USB 3.0, dan  Blu-Ray disc burner drive. MSI juga membekali laptop ini dengan full-color backlight Steel Series keyboard yang memiliki respon sangat cepat dan pada bagian audio, mereka juga menambahkan 3D speaker subwoofer, virtual 3D sound software processing untuk kualitas audio yang lebih menggelegar. Selain itu, GT72S G Tobii ini juga dilengkapi dengan tiga buah lampu berwarna merah (dual lens illuminator) yang disebut dengan "NearIR" tepat dibagaian bawah layar. Melalui tiga lampu tersebut, Eye Tracking dapat mendeteksi arah gerakan mata penggunanya.

MSI GT72S G Tobii

Saat ini, MSI GT72S G Tobii memiliki empat model yaitu GT72S 6QE Dominator Pro G, GT72S 6QE Dominator Pro G, GT72S 6QD Dominator G dan GT72 6QD Dominator G. Keempat model tersebut memiliki perbedaan pada sektor hardware, graphic card, dan jenis media penyimpanannya. Nah, bagi kamu seorang gamer sejati yang mungkin berencana membeli laptop atau Notebook gaming super canggih ini, siapkan dana yang tidak sedikit. Karena MSI GT72S G Tobii dijual oleh Newegg secara esklusif dengan harga $2599 atau sekitar Rp. 35 juta. Berminat??

Sumber: MSI
Selengkapnya...

10 February 2016

2 Cara Membuat Shutdown Otomatis Di Windows


Shutdown

Mungkin kamu pernah melakukan aktivitas didepan komputer hingga larut malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaan atau sekedar browsing di internet. Karena lelahnya, sampai kamu tertidur didepan komputer dan lupa untuk mematikan komputer atau laptop hingga membuat komputer kamu masih menyala sampai pagi. Untuk mengatasi hal tersebut tidak terulang lagi, ada baiknya jika kamu membuat perintah automatic shutdown atau shutdown otomatis di Windows.

Tujuannya adalah agar system secara otomatis dapat melakukan shutdown dalam waktu yang telah kamu tentukan. Meskipun sebenarnya ada beberapa aplikasi tambahan yang telah dilengkapi fitur auto shutdown, tetapi pada artikel kali ini aku akan memberikan dua cara yang bisa kamu pilih salah satu untuk membuat shutdown otomatis di Windows tanpa menggunakan aplikasi tambahan.

Cara #1. Shutdown Otomatis Melalui Command Prompt

Pertama, buka Windows Run, dengan cara tekan tombol Win + R secara bersaman. Kemudian ketik cmd lalu klik OK.

Windows Run

Setelah Command Prompt terbuka, kemudian ketik perintah dibawah ini:

shutdown /s /t 7200

Command Prompt

Perintah /s adalah perintah agar system melakukan shutdown komputer, perintah /t untuk mengatur waktu shutdown, dan angka 7200 adalah durasi waktu yang dihitung dalam satuan detik (60 detik = 1 menit), silahkan ganti angka tersebut sesuai durasi yang kamu inginkan. Jadi, maksud dari perintah diatas adalah komputer akan shutdown secara otomatis dalam waktu dua jam kedepan. ( 7200 : 60 detik = 120 menit = 2 jam )

Jika sudah memasukkan perintah diatas kemudian tekan Enter, maka akan muncul notifikasi jadwal shutdown komputer kamu.

notification Windows

"Lalu, bagaimana cara membatalkan perintah tersebut jika pekerjaanku belum selesai??". Agar system membatalkan perintah shutdown otomatis, buka kembali Command Prompt lalu gunakan perintah di bawah ini dan tekan Enter.

shutdown /a


Cara #2. Shutdown Otomatis Melalui Task Scheduler

Dengan melalui Task Scheduler, kamu bisa lebih mudah mengatur jadwal komputer shutdown otomatis tanpa harus repot menghitung jumlah detik dalam setiap menitnya. Berikut ini caranya:

Buka Windows Run seperti pada cara yang pertama tadi, kemudian ketik taskschd.msc lalu klik OK.

Windows Run

Setelah Task Scheduler terbuka, pada bagian sisi sebelah kanan, pilih Create Basic Task.

Task Scheduler

Kemudian beri nama dan deskripsi untuk task tersebut sesuai keinginan kamu, misalnya dengan nama Automatic Shutdown. Lalu klik Next untuk melanjutkan.

Task Scheduler

Selanjutnya, pada menu Trigger, pilih periode task tersebut akan dijalankan. Sebagai contoh, aku memilih One Time karena aku hanya ingin membuat komputer shutdown otomatis satu kali saja.

Task Scheduler

Kemudian atur tanggal dan jam kapan task tersebut akan berjalan sesuai dengan keinginan kamu . Jika sudah, lalu klik Next.

Task Scheduler

Selanjutnya pada menu Action, tentukan apa yang akan dijalankan oleh task tersebut. Pilih Start a program lalu klik Next.

Task Scheduler

Kemudian pada Program/script, cari program yang akan dijalankan, klik Browse lalu cari program Shutdown dengan nama file shutdown.exe yang terletak di C:\Windows\System32. Jika kamu sudah menemukannya, lalu klik Open.

Windows Explorer

Selanjutnya pada bagian Add arguments, ketikkan perintah /s yang berfungsi sebagai perintah agar system melakukan shutdown komputer. Lalu Klik Next.

Task Scheduler

Akan muncul detail informasi yang telah kamu buat tadi. Terakhir, klik Finish untuk menyelesaikan proses.

Task Scheduler

Itulah dua cara membuat shutdown otomatis di Windows yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan. Kedua cara tersebut bisa diterapkan di semua versi Windows, mulai dari Windows XP sampai Windows 10. Dan bagi pengguna laptop/notebook, bisa juga mencoba cara membuat laptop shutdown otomatis ketika flip ditutup.
Selengkapnya...

05 February 2016

Cara Menutup Aplikasi Not Responding Dengan Super Cepat di Windows


Aplikasi Not Responding

Ketika sedang asyik bekerja di depan komputer, apakah kamu pernah mengalami dimana aplikasi yang saat itu sedang kamu gunakan mengalami Not Responding atau tiba-tiba nge-hang dan tidak bisa digunakan? Tentu jika kamu pernah mengalami hal tersebut pasti kamu akan merasa marah dan sebal, apalagi jika pekerjaan kamu belum sempat disimpan. Ada beberapa cara yang sering digunakan untuk menutup aplikasi Not Responding ini, biasanya kebanyakan orang langsung menutupnya melalui kotak dialog yang muncul saat aplikasi tersebut terjadi Not Responding,atau ada juga yang menggunakan shortcut Ctrl + Alt + Del untuk menutupnya melalui Windows Task Manager.

Baca juga: Penyebab Komputer Not Responding dan Cara Mengatasinya

Namun terkadang, Windows akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merespon perintah kita untuk membuka Windows Task Manager agar kita dapat segera menutup aplikasi yang Not Responding tersebut. Hal ini karena biasanya proses pada aplikasi yang Not Responding menghabiskan cukup banyak resource memory sehingga komputer juga akan turut melambat atau bahkan akan mengalami crash. Untuk itu, kali ini aku akan berbagi sedikit trik sederhana untuk menutup aplikasi yang Not Responding dengan super cepat hanya dengan melalui sebuah shortcut. Berikut ini caranya:

Catatan: Trik ini bisa berjalan di semua versi Windows, kecuali Windows XP Home Edition karena tidak memiliki perintah taskkill.

Pertama klik kanan pada Desktop lalu pilih pilih New -> Shortcut

new shortcut

Kemudian ketik perintah di bawah ini:

taskkill.exe /f /fi “status eq not responding”

Tidak tahu apa arti dari barisan perintah diatas? Tenang, berikut ini aku akan jelaskan juga maksud dari perintah tersebut.
  • taskkill.exe : Sebuah file eksekusi yang ada di system Windows, berfungsi untuk menutup program/aplikasi yang berjalan.
  • /f : Perintah untuk menutup secara paksa program/aplikasi yang berjalan.
  • /fi “status eq not responding” : Hanya akan menutup program/aplikasi yang berstatus Not Responding saja.
create shortcut

Jika sudah, klik Next.

Kemudian beri nama sesuai keinginan kamu untuk shortcut tersebut. Jika sudah, lalu klik Finish.

create shortcut

Apabila kamu tidak suka dengan icon shortcutnya, kamu bisa mengubahnya agar tampilan iconnya lebih menarik, caranya klik kanan pada shortcut tersebut, lalu pilih Properties.

program properties

Pilih Tab Shortcut lalu klik tombol Change Icon...

change icon shortcut

Kemudian pilih gaya icon sesuai dengan keinginan kamu, lalu klik OK. Dan terakhir, klik OK lagi.

icon shortcut

Maka iconnya akan berubah menjadi lebih menarik.

icon shorcut

Dengan menggunakan shortcut tersebut, sekarang kamu bisa dengan cepat menutup aplikasi yang Not Responding tanpa harus menunggu lama. O,, iya.. Agar lebih cepat lagi, kamu bisa menempatkan shortcut tadi pada Taskbar. Caranya klik kanan pada shortcut tersebut, lalu pilih Pin to Taskbar.
Selengkapnya...

01 February 2016

Google Uji Coba Drone Untuk Penyebar Jaringan Internet 5G


Jika sebelumnya Google telah sukses mengembangkan Project Loon, yaitu sebuah proyek dengan menggunakan media balon udara untuk dapat menghadirkan jaringan internet ke daerah-daerah pelosok, yang kabarnya balon-balon udara tersebut juga akan masuk ke Indonesia pada tahun 2016 ini. Dan baru-baru ini dikabarkan bahwa Google diam-diam sedang menguji coba pesawat tanpa awak atau Drone untuk sebuah proyek baru mereka yang bernama Project SkyBender di Spaceport America, yang berada di wilayah New Mexico, Amerika Serikat.

Dalam proyek terbarunya ini, Google berusaha ingin menghadirkan jaringan internet berkecepatan tinggi melalui udara dengan menggunakan Drone. Ada dua jenis Drone yang digunakan oleh Google, pertama adalah Drone dengan awak yang bernama Centaur, dan kedua adalah Drone tanpa awak dengan tenaga surya yang bernama Solara 50 dari Titan Aerospace.

Drone Google
Drone Solara 50

Drone yang diterbangkan ini akan menyebarkan jaringan 5G yang ada disekitarnya dengan menggunakan teknologi transmisi gelombang radio milimeter (milimeter wave wireless transmitters). Teknologi gelombang milimeter ini dapat mengirimkan data dalam ukuran giga byte per detik, atau hingga 40 kali lipat lebih cepat dari kecepatan koneksi 4G LTE yang ada saat ini. Teknologi ini nantinya akan menjadi salah satu infrastruktur untuk jaringan internet 5G.

Meskipun demikian, teknologi gelombang radio milimeter ini memiliki daya jangkau yang lebih pendek jika dibandingkan dengan gelombang radio seluler yang saat ini digunakan di jaringan 4G LTE, serta sangat mudah terpengaruh oleh kondisi cuaca. Seperti hujan, salju dan kabut. Frekuensi yang digunakan oleh Google dalam Project SkyBender ini hanya sebesar 28 GHz. Kekuatan sinyal gelombang tersebut juga hanya bisa menjangkau 1/10 dari jarak sinyal 4G LTE. Google pun dikabarkan sedang melakukan eksperimen dengan teknologi transmisi yang disebut dengan phased array untuk mengatasi hal tersebut.

Project SkyBender merupakan bagian dari proyek tim Google Access. Perlu diketahui, Google Access adalah tim yang fokus dalam pengembangan untuk menghadirkan jaringan internet berkecepatan tinggi melalui udara dan sebelumnya juga telah mengembangkan proyek serupa yang diberi nama Project Loon.

Sumber: The Guardian | The Next Web
Selengkapnya...